No Results Found
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Luwu Timur, khususnya wilayah di sekitar Danau Matano, dikenal sebagai salah satu pusat awal pengolahan besi tradisional di Nusantara. Sejak abad ke-5 Masehi, masyarakat Matano telah mengembangkan teknik peleburan bijih besi secara lokal, menjadikannya pusat kebudayaan logam yang penting di Sulawesi.
Tradisi ini berkembang karena:
Adanya sumber bijih besi alami dari batuan ultrabasa (serpentinit dan laterit nikel).
Ketersediaan batu bara lokal atau bahan bakar alami (arang kayu keras) untuk proses peleburan.
Kecakapan teknis turun-temurun dari generasi ke generasi.
Teknologi yang digunakan tergolong sederhana namun efektif. Beberapa tahapnya:
Batuan mengandung besi dikumpulkan dari sekitar tebing dan pegunungan dekat danau.
Dilakukan dalam tungku tanah liat yang dilengkapi dengan alat tiup udara (bellow), menggunakan arang kayu sebagai bahan bakar.
Logam cair yang telah membeku dibentuk dan ditempa menjadi berbagai alat seperti:
Badik (senjata khas Sulawesi Selatan)
Pisau, parang, mata bajak
Senjata berburu dan alat berbasis besi lainnya
Pandai besi bukan sekadar profesi, tapi bagian dari identitas budaya Matano.
Pandai besi memiliki status sosial tinggi dalam struktur adat dan sering kali mewarisi ilmu secara eksklusif dalam satu keluarga atau komunitas.
Produk-produk logam mereka digunakan dalam:
Upacara adat dan ritus pernikahan
Peralatan pertanian dan berburu
Simbol status dan kekuasaan lokal
Penelitian arkeologi menemukan:
Situs peleburan besi kuno di pinggiran Danau Matano.
Pecahan relik dan sisa tungku besi berusia ratusan tahun.
Artefak besi tua seperti badik Matano dengan pola ukiran khas.
Hal ini memperkuat bukti bahwa Luwu Timur, terutama Matano dan Nuha, adalah bagian dari jaringan teknologi logam tertua di kawasan timur Indonesia.
Kini, jumlah pandai besi tradisional di Matano mulai berkurang karena:
Minimnya regenerasi (anak muda kurang tertarik).
Dominasi produksi logam modern dan pabrikasi massal.
Akses bahan baku dan perubahan gaya hidup.
Namun demikian, beberapa inisiatif pelestarian telah dilakukan:
Workshop budaya dan pelatihan pandai besi di sekolah-sekolah lokal.
Festival Budaya Danau Matano yang menampilkan proses pandai besi tradisional.
Rencana integrasi dalam Geopark Matano sebagai bagian dari warisan budaya tak benda.
Tradisi pandai besi di Luwu Timur adalah salah satu warisan teknologi tertua dan paling khas di Sulawesi. Lebih dari sekadar keahlian, ia adalah bukti bahwa masyarakat lokal telah mampu mengolah sumber daya alam secara mandiri dan berkelanjutan, jauh sebelum datangnya teknologi modern.
Melestarikan tradisi ini berarti merawat warisan, memperkuat identitas lokal, dan membuka peluang ekonomi kreatif berbasis budaya.
Cabai panggul-kuning (Dicaeum aureolimbatum) adalah spesies burung pengicau dalam famili Dicaeidae. Cabai panggul-kuning adalah spesies burung endemik di Sulawesi.
Burung ini bisa kita temui pada ketinggian 850-2000 mdpl. Penyebarannya dari pulau Sangihe yang berada pada bagian utara pulau Sulawesi sampai Sulawesi Selatan. Areanya pun bervariasi mulai dari hutan primer, hutan sekunder, tepi hutan dan taman-taman kota.
Sumber Tulisan: https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Cabai_panggul-kuning
Sumber Gambar: https://www.instagram.com/weldipurwanto?igsh=MTZnd2dpdWk5b3dvMQ==
Todiramphus sanctus memiliki tubuh berukuran sedang yaitu 22 cm. Spesies ini mirip dengan Todiramphus chloris, tetapi lebih berwarna kusam, dan ukuran tubuh sedikit lebih kecil. Bagian yang berwarna biru lebih kehijauan pada spesies ini. Warna dada agak kuning atau merah karat (bukan putih bersih). Iris berwarna coklat, dengan paruh hitam, dan kaki abu-abu terang.
Sumber Tulisan: https://baliwildlife.com/id/ensiklopedia/hewan/burung/cekakak-suci/
Sumber Gambar: https://www.instagram.com/weldipurwanto?igsh=MTZnd2dpdWk5b3dvMQ==
Burung Kuntul Besar adalah burung yang tinggi, berkaki panjang, dan suka mengarungi air dengan leher panjang melengkung seperti huruf S dan paruh panjang seperti belati. Saat terbang, lehernya yang panjang terselip dan kakinya menjulur jauh melampaui ujung ekornya yang pendek. Semua bulu burung Kuntul Besar berwarna putih. Paruhnya berwarna jingga kekuningan, dan kakinya berwarna hitam. Burung Kuntul Besar mengarungi air dangkal (baik air tawar maupun air asin) untuk berburu ikan, katak, dan hewan air kecil lainnya. Mereka biasanya berdiri diam dan menunggu mangsa yang tidak curiga lewat. Kemudian, dengan kecepatan yang mengejutkan, burung kuntul menyerang dengan menghentakkan leher dan paruhnya yang panjang.
Sumber Tulisan: https://www.allaboutbirds.org/guide/Great_Egret/id
Sumber Gambar: https://www.instagram.com/weldipurwanto?igsh=MTZnd2dpdWk5b3dvMQ==
Burung Kring-Kring Bukit dewasa biasanya mempunyai panjang tubuh sekitar 28 cm dengan berat antara 200-225 gram. Bulu tubuhnya kebanyakan berwarna hijau dengan penutup ekor bagian bawah berwarna kuning. Perbedaan antara burung Kring-Kring jantan dan betina terlihat jelas, jadi gampang membedakannya. Burung Jantan mempunyai bercak biru-abu-abu di tengkuk, mahkota belakang berbintik merah, dan pita mantel bagian atas berwarna kuning jingga. Sedangkan, mantel bagian bawah dan penutup sayapnya berwarna keabu-abuan.
Sumber Tulisan: https://www.purwokertoinsight.com/gaya-hidup/7099380353/ciri-khas-dan-habitat-burung-kring-kring-bukit-atau-prioniturus-platurus
Sumber Gambar: https://www.instagram.com/weldipurwanto?igsh=MTZnd2dpdWk5b3dvMQ==