No Results Found
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Terletak pada koordinat -2572163 LS dan 12064550 BT di desa Lagego, Kecamatan Burau. Dikenal dengan gua batu putih yang terbentuk dari batu gamping kristalin yang merupakan bagian dari Formasi Batugamping Malihan. Batugamping ini mempunyai ciri-ciri berwarna abu-abu agak putih, sangat keras, butiran sedang hingga halus, kristal kalsit berkembang dengan baik. Karakter gua sendiri antara lain gua mempunyai beberapa kamar yang bertingkat, endokarst berkembang baik antara lain: stalaktit, stalagmit, flowstone, tirai.
Serpentinite adalah jenis batuan metamorf yang terbentuk dari hasil alterasi (perubahan) batuan ultramafik, terutama peridotit (olivin dan piroksen), akibat proses serpentinisasi. Proses terbentuknya berasal dari Batuan ultramafik (misalnya peridotit) bereaksi dengan air laut atau fluida hidrotermal pada suhu relatif rendah → mineral olivin & piroksen berubah menjadi serpentin + magnetit. Ciri utamanya yaitu berwarna hijau tua hingga hijau kehitaman, kadang bercampur putih atau kekuningan, Tekstur halus sampai berserat, kadang tampak mengilap seperti sabun (disebut juga soapstone), Mineral utama: serpentin (lizardite, chrysotile, antigorite), Kerap mengandung magnetit, sehingga bisa agak bersifat magnetis, Umumnya terbentuk di zona batas lempeng (subduksi) atau kerak samudera yang terangkat ke daratan (ophiolite complex)Terletak pada koordinat -2,427420 LS dan 121,258363 BT di Desa Matano, Kecamatan Nuha. Pada lokasi ini, terdapat tebing setinggi kurang lebih 8 meter yang tersusun oleh serpentinite.
Chrysotile asbestos adalah salah satu jenis mineral asbestos yang paling umum dan termasuk dalam kelompok serpentin. Karakteristik utama yakni warna putih keabu-abuan hingga kehijauan, bentuk: serat halus, lentur, dan melingkar (fibrous, curly), Mineralogi, bagian dari kelompok serpentin (berhubungan dengan serpentinite), Stabil pada kondisi metamorf rendah. Chrysotile terbentuk dari alterasi hidrotermal batuan ultramafik (peridotit, dunit, serpentinite). Umumnya ditemukan dalam kompleks ofiolit, di zona kerak samudera yang terangkat ke daratan. Merupakan tipe asbestos yang paling melimpah di dunia, sekitar 90–95% dari seluruh asbestos yang pernah digunakan secara industri.
Lokasi ini terletak pada koordinat -2,427023 LS dan 121,274457 BT. Pada lokasi ini terdapat tebing batuan memanjang yang terdiri dari batuan ultramafic peridotit yang terserpentinisasikan. Batuan berwarna hijau kehitaman, keras dan kompak, butiran halus hingga sedang. Selain itu terdapat juga rekahan-rekahan yang terisi asbestos form/ chrysotile fibre yang terbentuk dengan baik berupa lembaran-lembaran berwarna putih. Lapisan mempunyai arah pola jurus dan kemirigan batuan N330°E/24 – N225°E/25.
Terletak pada koordinat -2,427023 LS dan 121, 274457 BT. Pada situs ini, terdapat teras-teras atau undakan-undakan dibawah air sebagai bukti struktur geologi amblasan (graben). Teras-teras ini memotong lapisan-lapisan batuan pasir dan lempeng resen yang menandakan bahwa struktur tersebut masih aktif. Teras bawah air adalah bentuk morfologi berupa undakan (step/bench) yang terdapat di dasar perairan, biasanya di danau, laut, atau sungai. Fenomena ini serupa dengan teras daratan, tetapi posisinya berada di bawah permukaan air.
Terletak pada koordinat -2,564455 LS dan 121,251413 BT di Desa Ledu-Ledu, Kecamatan Wasuponda. Material penyusun umumnya berupa batuan beku ultrabasa–mafika (peridotit, basalt, gabbro) yang termasuk ke dalam Kompleks Ofiolit Sulawesi Timur. Hasil alterasi hidrotermal batuan ultramafik menghasilkan serpentinite yang sering dijumpai di sekitar kawasan ini. Beberapa bagian juga ditutupi oleh endapan kuarter (kerikil, pasir, tanah hasil pelapukan). Kehadiran sesar dan kekar mengontrol arah aliran sungai serta lokasi air terjun. Air terjun sering terbentuk di jalur rekahan (fracture zone). Proses tektonik (pengangkatan) menyebabkan morfologi curam dan memungkinkan terbentuknya tebing tinggi.
Ciri khas air terjun berundak, dengan kolam-kolam kecil di setiap undakannya, dengan ketinggian lebih dari 50 meter. Material yang tersusun atas batu gamping travertine, berwarna coklat, berlembar, keras dapat diremas, pasiran, sebagian dan ditumbuhi lumut hingga kehijauan.