No Results Found
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Udang Caridina holthuisi von Rintelen & Cai merupakan salah satu jenis udang endemik Sulawesi yang hidup di danau-danau purba seperti Danau Matano, Towuti, dan Mahalona. Udang berukuran kecil ini memiliki tubuh transparan hingga agak berwarna dengan pola khas yang memudahkannya berkamuflase di lingkungan perairan yang jernih. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 2009 oleh Kristina von Rintelen dan Yixiong Cai, spesies ini termasuk dalam keluarga Atyidae dan memiliki peran penting sebagai pembersih alami karena memakan alga, detritus, serta sisa organik di habitatnya. Keberadaan Caridina holthuisi juga menjadi indikator kesehatan ekosistem danau, namun populasinya rentan terancam akibat pencemaran, perubahan lingkungan, dan masuknya spesies asing, sehingga perlu dijaga kelestariannya.
Sumber gambar: https://www.nickybay.com/
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
Ikan Opudi (Telmatherina celebensis) merupakan spesies ikan air tawar yang bersifat endemik. Bagi orang asinga, ikan Opudi seringa disebut celebes rainbowfish. Pada perairan air tawar, Ikan Opudi hidup di wilayah danau. Dapat dikatakan Ikan Opudi merupakan Ikan endemik di pulau Sulawesi.
Opudi (Telmatherina celebensis) adalah hewan yang banyak ditemui di lima danau yang terletak di pertengahan Sulawesi, yakni Danau Mahalona, Danau Wawantoa, Danau Matano, Danau Masapi, dan Danau Towuti. Bentuknya yang unik membuat banyak orang tertarik untuk memelihara Opudi, tanpa peduli bahwa status Opudi saat ini adalah “terancam punah”. Terutama dengan maraknya pembalakan liar dan “campur tangan manusia” yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir ini.
Konon, dulu, Opudi sangat mudah ditemukan di tepi danau. Mereka sering ditemukan berenang di sela-sela akar mangrove. Namun, sayangnya, letak Opudi “bergeser” ke tengah setelah perumahan apung (di atas danau) mulai dibangun, lalu masyarakat mulai memanfaatkan kolong rumah apung sebagai arena tambak.
Sumber tulisan: https://biodiversitywarriors.kehati.or.id/artikel/ikan-opudi/ https://budaya-indonesia.org/Ikan-Opudi-Ikan-Endemik-Sulawesi-Selatan/
Sumber gambar: https://sulawesikeepers.org/id/ikan-endemik-air-tawar-di-sulawesi/
Ikan butini atau Glossogobius matanensis adalah omnivora, yang berarti mereka mengonsumsi berbagai jenis bahan organik, baik tumbuhan maupun hewan. Ikan Butini adalah ikan endemik yang berasal dari danau purba di Pulau Sulawesi, yaitu Danau Towuti dan Danau Matano. Seperti banyak ikan yang hidup di perairan payau, ikan butini memiliki aktivitas makan yang lebih aktif pada malam hari (nokturnal).
Hal ini memungkinkan mereka untuk mencari makanan di waktu yang lebih tenang, ketika mereka juga lebih aman dari predator. Ikan butini dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungan yang memiliki fluktuasi salinitas yang tinggi, yaitu di daerah muara dan pesisir dengan kadar garam yang bervariasi. Ikan butini berperan penting dalam proses pemecahan bahan organik di perairan, membantu menjaga kualitas air dan memelihara keseimbangan ekosistem pesisir.
Berbagai aktivitas yang dilakukan di perairan ini diperkirakan menyebabkan penurunan populasi ikan Butini.
Ukuran ikan butini terpanjang (46,20 cm) adalah ikan jantan, ditemukan di kedalaman 150 m. Pola pertumbuhan Von Bertalanffy ikan butini gabungan yaitu L(t)= 46,62 [1 – e-1,200(t-to)], jantan dan betina masing-masing adalah L(t) =46,62 [1 – e-0,950(t-to)] danL(t)= 46,62 [1 – e-0,820(t-to)]. Mortalitas total tertinggi dijumpai di Zona B (5,49 per tahun) pada ikan betina.
Sumber: https://jagatsatwanusantara.id/satwa/ikan-butini/ https://data.go.id/dataset/dataset/pertumbuhan-dan-mortalitas-ikan-endemik-butini-glossogobius-matanensis-weber-1913-di-danau-towu