No Results Found
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.
EBONI (Diospyros celebica Bakh), merupakan salah satu jenis kayu anggota famili Ebenaceae. Pohon eboni juga dikenal sebagai kayu hitam karena memiliki teras kayu berwarna hitam dengan garis-garis merah-cokelat. Nama Celebia tentu saja merujuk pada Celebes atau Celebes yang berarti Sulawesi. Karena itu eboni adalah kayu endemik kepulauan ini.
Ada beberapa jenis pohon serupa yang termasuk dalam klasifikasi kayu eboni, yakni: Diospyros ebeum Koen, Diospyros macrohylla Bl, Diospyros pilosanthera Blanco, Diospyros ferea Bakh, Diospyros tolin Bakh, dan Diospyros rumphii Bakh. Hampir semua jenis pohon tersebut mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, namun jenis Diospyros celebicaBakh memiliki persebaran terbatas, hanya di hutan-hutan Sulawesi.
Pohon eboni bisa tumbuh mencapai tinggi 40 meter dengan diameter 1 meter. Tajuknya berbentuk silindris hingga kerucut dan percabangannya agak leteral dan kokoh. Sedangkan sistem perakarannya sangat dalam, luas, dan intensif. Kulit luar berwarna hitam dan mengelupas kecil-kecil sejalan dengan bertambah umur pohon. Buahnya berdaging dan bunganya berukuran kecil.
Buah eboni matang secara fisiologi sekitar bulan November dan Desember. Biji Eboni yang sehat ditandai dengan warnanya yang cokelat kehitaman dan memiliki radikel berwarna kuning kecokelatan. Karena sifatnya yang rekalsitran, biji Eboni tidak bisa disimpan dalam kurun waktu lama.
Sumber: https://www.forestdigest.com/detail/1081/konservasi-eboni-kayu-langka-dari-sulawesi
Babirusa sulawesi merupakan kelompok mamalia dalam keluarga Suidae. Panjang babirusa dapat mencapat 1 m dengan tinggi sekitar 65-80 cm dan berat dapat mencapai 90 kg. Tubuhnya lebih terlihat berwarna putih dengan rambut yang jarang dibandingkan babi-hutan sulawesi. Babirusa juga dikenal dengan dua pasang gigi taringnya yang mencuat membesar, melengkung dan menembus ke atas. Bahkan individu jantan memiliki gigi taring atas yang melengkung menembus rahang atasnya.
Babirusa sulawesi merupakan endemik Sulawesi yang tersebar di suluruh Sulawesi kecuali bagian semenanjung selatan. Di sebagian Sulawesi Utara, Buton dan Muna diperkirakan sudah punah secara lokal. Populasi globalnya di seluruh sulawesi diperkirakan mengalami penurunan dengan besar populasi diperkirakan tidak lebih dari 10.000 individu dewasa. Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting untuk melindungi jenis ini. Mereka dapat dijumpai hampir di semua wilayah berhutan kawasan ini. Lokasi-lokasi kubangan dan salt-lick mereka banyak tersebar di dalam kawasan ini, dari yang kecil sampai yang komunal.
Babirusa sulawesi hanya dapat dijumpai di hutan-hutan primer sulawesi dataran rendah dan pegunungan. Mereka hidup berkelompok, baik kelompok kecil jantan betina dan 2-3 anak sampai kelompok besar. Biasa mengunjungi kubangan lumpur ataupun daerah salt-lick untuk meminum air bergaram sebagai kebutuhan mineral. Babirusa dikenal sebagai satwa omnivora, mengkonsumsi berbagai daun, akar, buah hutan, dan beragam satwa kecil (invertebrata dan vertebrata).
SUMBER:
https://www.boganinaniwartabone.org/portal/artikeldetail/S0VVMTgwMDEyMDIwMDQwMzAxNDgxOTI=/BABIRUSA%20SULAWESI.html
Macrocephalon maleo merupakan spesies burung endemik asli Sulawesi yang termasuk dalam bangsa aves yang memiliki perilaku unik dan aneh karena menyimpan telurnya didalam tanah/pasir. Saat ini, burung maleo masuk dalam daftar 25 spesies prioritas perlindungan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian LHK sebagai upaya pelestarian spesies langka Indonesia. Salah satu daerah, Kabupaten Banggai menjadikan M. maleo menjadi maskot kota sebagai media komunikasi kepada masyarakat akan pentingnya kelestarian burung maleo. Hal ini berkaitan dengan budaya setempat yaitu Tradisi Adat Molabot Tumpe yang memakai telur burung maleo sebagai objek dalam ritual adat dan terus bertahan hingga kini. Selain itu, masyarakat sekitar habitat terutama di area penetasan telur kerap memanfaatkan telur maleo sebagai sumber makanan bergizi secara besar-besaran sehingga mengancam kelanjutan perkembangbiakan populasi.
Sumber: https://biodiversitas-indonesia.or.id/2024/06/17/menguak-cerita-di-balik-spesies-endemik-sulawesi-keunikan-dan-keterancaman-macrocephalon-maleo/
Di danau Towuti, Sulawesi selatan, pada 2009 silam peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Dr Daisy Wowor menemukan spesis udang cantik harlequin Caridina woltereckae.
Cinderamata Indonesia Unik
Namun, udang endemik ini masuk ke dalam daftar spesies kritis yang terancam punah. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan Caridina woltereckae dalam daftar merah spesies terancam punah.
Keunikan spesies udang ini, menurut Daisy, pada perpaduan coraknya yang cantik dengan dominasi merah marun dan putih. Ini yang menjadikan spesies udang ini banyak diburu oleh para pedagang ikan hias.
Daisy mengatakan, selain faktor manusia, banyaknya ikan invasif yang ada dan memburuknya kualitas habitat danau semakin memperparah kondisi keberadaan udang hias endemik ini.
Caridina adalah nama genus. Untuk nama spesies woltereckae sebagai penghormatan untuk jasa peneliti udang-udangan, Eva Woltereck.
Udang hias lainnya yang ditemukan Daisy, antara lain, Caridina mahalona di kompleks Danau Malili, Sulawesi Selatan dan Caridina longidigita di Danau Poso, Sulawesi Tengah.
Danau Towuti merupakan danau purba yang terbentuk akibat proses tektonik yang bersifat oligotrofik. Karakter danau oligotrofik yang memiliki air jernih, miskin zat hara. Kandungan oksigen yang memadai menjadikan ekosistem yang tepat untuk beberapa spesies flora dan fauna endemik.
Sumber: https://darilaut.id/konservasi/caridina-woltereckae-udang-cantik-dari-sulawesi-yang-terancam-punah
Situs Rahampu’u Terletak di sebelah barat Danau Matano, lokasinya berada di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur provinsi Sulawesi selatan. berdasarkan dengan sebaran dan konsentrasi temuan, sehingga situs ini dibagi menjadi beberapa sektor. Sektor yang pertama terletak di sekitar kolam wisata mata air Dusun Matano, jaraknya tidak jauh dari pinggir danau. Secara astronomis terletak pada titik 2 27’22,5″ LS dan 121 12’57,4″. dengan ketinggian 407 meter dari permukaan laut (Mdpl). Temuan yang terlihat pada permukaan merupakan serpih batu chert, dan beberapa kerakal terak logam (Iron Slag).
Penggalian arkeologi (ekskavasi) dilakukan di area pekarangan rumah warga. Lokasi ini belum pernah dikelola sebagai kebun oleh masyarakat sekitar sehingga memungkinkan untuk menemukan lapisan budaya yang utuh. Ekskavasi dilakukan menggunakan sistem kotak/box dengan pendalaman sistem spit interval 10 cm.Tanah terasa bertekstur lanau berpasir dengan warna hitam kecoklatan.
The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.