Pelayaran dan Tinggalan Material Dalam Prespektif Geologi Arkeologi Sejarah

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suku Bugis dan Makassar adalah dua suku yang gemar merantau. Dalam perantauannya, kedua suku ini menggunakan filosofi tellu cappa dalam menyelesaikan suatu perkara atau masalah yang mereka hadapi. Dalam paseng to riolo (pesan tetua Bugis dan Makassar jaman dahulu) dikatakan: “Tellu cappa’ mi bokonna to laoe, iyana ritu cappa’ lilae, cappa’ orowanewe, cappa’ kawalie.” Terjemahan bebas dari paseng di atas adalah: hanya tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian atau merantau, yaitu: ujung lidah, ujung kemaluan (kelelakian), dan ujung badik/kawali (senjata). Demikian tradisi yang diceriterakan dalam tutur suku Bugis-Makassar.

Pendataan Potensi CB Luwu Timur

Kabupaten Luwu Timur tidak lepas dari catatan historis tentang kejayaan Luwu sebagai kerajaan tertua yang berpengaruh di Sulawesi Selatan (Wolman, 2007). Beberapa wilayah di Kabupaten Luwu Timur menjadi daerah aktivitas manusia pada masa lampau yang meninggalkan jejak tinggalan budaya. Hal itu diterangkan oleh (Padillah, 2000) bahwa warisan budayanya yang sudah terbentuk sejak periode masa prasejarah dan periode sejarah. Termuat dalam catatan sejarah kesusastraan bugis, baik dari segi kekuasaan politik maupun wibawa kultur yang dimilikinya.

Pemanfaatan Sumber Air Di Situs Benteng Wotu Scan Tanda Tangan

Air merupakan kebutuhan yang paling utama untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam bermukim. Salah satu faktor manusia memilih lokasi bermukim karena dekat dengan sumber air. Air merupakan bagian terbesar penyusun tubuh mahluk hidup. Tubuh manusia mengandung air lebih dari 60% (Yudianto, 2000:1-2). Air mengisi cekungan-cekungan dipermukaan bumi, seperti laut, danau dan sungai. Air juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Oleh karena itu, manusia memanfaatkan sumber-sumber air sesuai dengan kebutuhannya. Sumber air tersebut berupa air permukaan dan air di bawah permukaan atau air tanah. Air permukaan seperti air sungai dan danau, sedangkan air tanah dapat diperoleh dari pembuatan sumur, kolam dan saluran air lain (Rostia, 2007:15).

Peta Wisata Alam Padoe

Luwu Timur dengan luas 6,944.88 km2 merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan yang pembentukannya diresmikan pada tangga l3 Mei 2003. Kabupaten ini terdiri dari 11 kecamatan (Kecamatan Burau, Wotu, Tomoni, Tomoni Timur, Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Wasuponda, Mangkutana dan Kalaena) dengan jumlah penduduk sekitar 261.199 jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2012 (http://www.luwutimurkab.go.id). Secara administratif, wilayah kabupaten ini berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara, berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone di sebelah selatan, dan berbatasan dengan kabupaten Luwu Utara di sebelah Barat dan Timur.

Ragam Hias Tembikar Matano Dan Korelasinya Dengan

Benda tembikar mempunyai peran penting bagi manusia, baik secara sosial maupun ekonomi. Sebagai sisa aktivitas manusia, artefak tembikar hampir selalu ditemukan di situs-situs arkeologi dunia. Artefak ini pertama kali dikenal pada masa bercocok tanam dan manusia mulai hidup menetap. Tembikar pada masa ini dibuat dengan tangan dan pembakarannya kebanyakan tidak sempurna sehingga tembikar yang dihasilkan mudah pecah, rapuh, dan tidak dapat bertahan lama. Kebanyakan tembikar yang dihasilkan pada masa bercocok tanam dalam keadaan rapuh dan menampilkan permukaan yang polos atau dengan hiasan sederhana berupa garis pendek (Soejono, 2008: 228-233).