Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suku Bugis dan Makassar adalah dua suku yang gemar merantau. Dalam perantauannya, kedua suku ini menggunakan filosofi tellu cappa dalam menyelesaikan suatu perkara atau masalah yang mereka hadapi. Dalam paseng to riolo (pesan tetua Bugis dan Makassar jaman dahulu) dikatakan: “Tellu cappa’ mi bokonna to laoe, iyana ritu cappa’ lilae, cappa’ orowanewe, cappa’ kawalie.” Terjemahan bebas dari paseng di atas adalah: hanya tiga ujung yang menjadi bekal bagi orang yang bepergian atau merantau, yaitu: ujung lidah, ujung kemaluan (kelelakian), dan ujung badik/kawali (senjata). Demikian tradisi yang diceriterakan dalam tutur suku Bugis-Makassar.