Pendataan Potensi CB Luwu Timur

Kabupaten Luwu Timur tidak lepas dari catatan historis tentang kejayaan Luwu sebagai kerajaan tertua yang berpengaruh di Sulawesi Selatan (Wolman, 2007). Beberapa wilayah di Kabupaten Luwu Timur menjadi daerah aktivitas manusia pada masa lampau yang meninggalkan jejak tinggalan budaya. Hal itu diterangkan oleh (Padillah, 2000) bahwa warisan budayanya yang sudah terbentuk sejak periode masa prasejarah dan periode sejarah. Termuat dalam catatan sejarah kesusastraan bugis, baik dari segi kekuasaan politik maupun wibawa kultur yang dimilikinya.

Pemanfaatan Sumber Air Di Situs Benteng Wotu Scan Tanda Tangan

Air merupakan kebutuhan yang paling utama untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam bermukim. Salah satu faktor manusia memilih lokasi bermukim karena dekat dengan sumber air. Air merupakan bagian terbesar penyusun tubuh mahluk hidup. Tubuh manusia mengandung air lebih dari 60% (Yudianto, 2000:1-2). Air mengisi cekungan-cekungan dipermukaan bumi, seperti laut, danau dan sungai. Air juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Oleh karena itu, manusia memanfaatkan sumber-sumber air sesuai dengan kebutuhannya. Sumber air tersebut berupa air permukaan dan air di bawah permukaan atau air tanah. Air permukaan seperti air sungai dan danau, sedangkan air tanah dapat diperoleh dari pembuatan sumur, kolam dan saluran air lain (Rostia, 2007:15).

Peta Wisata Alam Padoe

Luwu Timur dengan luas 6,944.88 km2 merupakan salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan yang pembentukannya diresmikan pada tangga l3 Mei 2003. Kabupaten ini terdiri dari 11 kecamatan (Kecamatan Burau, Wotu, Tomoni, Tomoni Timur, Angkona, Malili, Towuti, Nuha, Wasuponda, Mangkutana dan Kalaena) dengan jumlah penduduk sekitar 261.199 jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2012 (http://www.luwutimurkab.go.id). Secara administratif, wilayah kabupaten ini berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara, berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Tenggara dan Teluk Bone di sebelah selatan, dan berbatasan dengan kabupaten Luwu Utara di sebelah Barat dan Timur.

Ragam Hias Tembikar Matano Dan Korelasinya Dengan

Benda tembikar mempunyai peran penting bagi manusia, baik secara sosial maupun ekonomi. Sebagai sisa aktivitas manusia, artefak tembikar hampir selalu ditemukan di situs-situs arkeologi dunia. Artefak ini pertama kali dikenal pada masa bercocok tanam dan manusia mulai hidup menetap. Tembikar pada masa ini dibuat dengan tangan dan pembakarannya kebanyakan tidak sempurna sehingga tembikar yang dihasilkan mudah pecah, rapuh, dan tidak dapat bertahan lama. Kebanyakan tembikar yang dihasilkan pada masa bercocok tanam dalam keadaan rapuh dan menampilkan permukaan yang polos atau dengan hiasan sederhana berupa garis pendek (Soejono, 2008: 228-233).

Sacred places in Ussu and Cerekang, South Sulawesi, Indonesia

This contribution describes and analyses the sacred places in the environs of the β€˜land where the gods descended’ (Reid 1990)β€”the twin villages of Ussu and Cerekang in East Luwu, South Sulawesi. Ussu and Cerekang were the focus of several months of fieldwork for the β€˜Origin of Complex Society in South Sulawesi’ (OXIS) project undertaken by anthropologists, archaeologists and historians (Darmawan et al 1999; Bulbeck and Caldwell 2000; Fadillah and Sumantri 2000).

Sebaran Situs Arkeologi di Kec. Malili. Kab. Luwu Timur

Luwu yang dikenal pada saat ini dalam pengertian wilayah administrasi dengan batas-batas wilayah yang jelas, mengandung wacana geografi, Sejarah dan budaya yang menarik untuk dikaji. Ia merupakan Sebagian dari batas wilayah kekuasaan Kerajaan Luwu yang membentang mulai dari bagian utara teluk Bone, memanjang ke sebelah timur hingga ke dataran tinggi Matano yang Sebagian menjadi wilayah propinsi Sulawesi Tenggara (Rahman:2000:47)