Situs Pulau Ampat

Kepurbakalaan besi di Indonesia serupa dengan kepurbakalaan perunggu dan emas (Tabel 1), yang telah meyakinkan para sarjana untuk mengakui Zaman Besi- Perunggu (Van Heekeren, 1958), Zaman Paleometalik (Soegondo, 1995), atau Zaman Logam Awal (Bellwood, 2017). Situasi ini berbeda dengan benua Eurasia
dimana Zaman Perunggu dapat diidentifikasi mendahului Zaman Besi selama berabad-abad (misalnya,Pigott, 2012).

Strategi Pelestarian Sumber Daya Budaya Di Danau Matano

Danau Matano merupakan salah satu danau terdalam dengan karakteristik yang sangat unik, mulai dari proses pembentukan sampai pada bentuk lingkungan yang dimiliki. Kondisi tersebut yang membuat danau ini menyimpan berbagai potensi yang berlimpah mulai dari sumber daya alam sampai dengan sumber daya budaya yang tercipta, di mana kedua elemen tersebut selalu berjalan beriringan (Whitten, 1987:278, Setiawan, 2010, Sentosa dkk, 2017:62).

The history of Bone A.D. 1775-1795

Throughout the course of my Doctoral study, and in all the places it has taken me, I have met with great generosity of spirit and willingness to help. I would like to thank all those without whose individual contributions the completion of this thesis would not have been possible.
I am greatly indebted to the University Kebangsaan Malaysia for its generous sponsorship of my study. My special thanks are due to the Head of the Department of History, University Kebangsaan Malaysia, and to the departmental staff members, for their understanding and support in making it possible for me to complete this research.

Analisis Gerabah Situs Gua Andomo Desa Lioka

Gerabah di Indonesia mulai dikenal pada masa bercocok tanam sekitar 2.500-1500 tahun sebelum masehi, di saat kebutuhan akan tempat penyimpanan mulai dirasakan (Atmosidiro, 1998). Kebutuhan tersebut semakin berkembang seiring waktu, bukan hanya sebagai wadah untuk kebutuhan sehari-hari saja namun juga digunakan sebagai kebutuhan dalam upacara religi. Gerabah yang pernah ditemukan di beberapa situs prasejarah di Melolo, Gilimanuk dan Plawangan yang digunakan sebagai wadah bekal kubur dan tempat untuk meletakan jenazah atau tulang manusia pada sistem kubur tempayan (Sugondo, 1999 17 dan Soejono, 1984 74)

Jejak Peradaban Di Dasar Danau Matano

Sumber Belanda tentang Luwu pertama kali ditemukan melalui tulisan Speelman β€œNotitie dienende voor eenen korten tijd en tot nader last van de Hoge Regering op Batavia voor den ondercoopman Jan van Oppijnen” (Speelman 1670). Tulisan Speelman itu mencatat tentang ekspor besi dari Luwu. Tulisan selanjutnya yang lebih sistematis tentang sejarah Sulawesi Selatan adalah karya Blok β€œHistory of the Island of Celebes” (Sejarah Pulau Sulawesi), yang ditulis pada tahun 1759 dan diterbitkan tahun 1817. Blok mendasari tulisannya dari sumber lisan dan catatan Speelman. Bagaimanapun juga, tulisan keduanya menjadi pintu masuk dalam penelaahan tentang Luwu. Sayang sekali, penelitian arkeologi tentang Luwu bagian Timur sangat sedikit ditemukan. Padahal, berbagai asumsi tentang awal mula Luwu diletakkan pada daerah tersebut, terutama pada wilayah sekitar Danau Matano.

Keutamaan Parewa Bessi Luwu

Salah satu khasanah budaya tangible dan intangible suku Bugis adalah parewa besi yang meliputi keris, tombak, parang, dan badik. Dalam mengindentifikasi diri, orang bugis biasanya menyandang ataupun menyimpan salah satu parewa besi. Berdasarkan pengamatan terhadap kolektor, parewa besi luwu seringkali menjadi prioritas pilihan untuk disandang. Pilihan itu seringkali pula dilandasi oleh berbagai mitos yang menyelimuti parewa besi.